Selasa, 28 Oktober 2008

Pahlawan Revolusi

Daftar Nama Pahlawan Revolusi Korban Kekejaman
Peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965 G/30S/PKI
Tujuh korban kebiadaban PKI disiksa dan dibunuh tanggal 1 oktober 1965 ditemukan pada sumur tua di daerah lubang buaya jakarta timur. Setiap tanggal 1 oktober diperingati sebagai hari kesaktian pancasila.


Nama-nama pahlawan revolusi :
Ahmad Yani, Jend. Anumerta
Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta
M.T. Haryono, Letjen. Anumerta
Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta
Siswono Parman, Letjen. Anumerta
Suprapto, Letjen. Anumerta
Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta
1)Ahmad Yani

Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani (juga dieja Achmad Yani; Purworejo, 19 Juni 1922Lubang Buaya, 1 Oktober 1965) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.
Beliau dikenal sebagai seorang tentara yang selalu berseberangan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Ketika menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat sejak tahun 1962, ia menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Karena itulah beliau menjadi salah satu target PKI yang akan diculik dan dibunuh di antara tujuh petinggi TNI AD melalui G30S (Gerakan Tiga Puluh September). Ia ditembak di depan kamar tidurnya pada subuh 1 Oktober 1965. Mayatnya kemudian ditemukan di Lubang Buaya.
Jabatan terakhir sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat(Men/Pangad) sejak tahun 1962.
Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Pendidikan
ØHIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935
ØMULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938
ØAMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940
ØPendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang
ØPendidikan Heiho di Magelang
ØPETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor
ØCommand and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA, tahun 1955
ØSpecial Warfare Course di Inggris, tahun 1956
Bintang Kehormatan
ØBintang RI Kelas II
ØBintang Sakti
ØBintang Gerilya
ØBintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
ØSatyalancana Kesetyaan VII, XVI
ØSatyalancana G: O.M. I dan VI
ØSatyalancana Sapta Marga (PRRI)
ØSatyalancana Irian Barat (Trikora)
ØOrdenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) dan lain-lain
2)Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta

Mayor Jendral (Anumerta) Donald Isaac Panjaitan dilahirkan di Balige, Sumatera Utara, 19 Juni 1925 dan wafat di Lubang Buaya, 1 Oktober 1965. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Keberhasilan Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan membongkar rahasia kiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk Partai Komunis Indonesia (PKI) serta penolakannya terhadap rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan tani, membuat dirinya masuk daftar salah satu perwira Angkatan Darat yang dimusuhi oleh PKI. Kebencian PKI itu kemudian berujung pada aksi penculikan serta pembunuhan dirinya saat pemberontakan Gerakan 30 September 1965.
Pria kelahiran Balige, Tapanuli yang bernama lengkap Donald Isac Panjaitan, ini masuk militer pada jaman pendudukan Jepang. Setelah lebih dulu mengikuti latihan Gyugun, ia selanjutnya ditugaskan di Gyugun Pekanbaru, Riau. Setelah kemerdekaan RI, ia merupakan salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Di TKR, ia mengawali kariernya sebagai komandan batalyon, selanjutnya ia sering berpidah tugas. Setelah Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, ia diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara & Teritorial (T&T) I/Bukit Barisan di Medan. Ia juga pernah bertugas sebagai Atase Militer di Bonn, Jerman. Terakhir ia bertugas sebagai Asisten IV Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ketika peristiwa sadis itu menimpa dirinya.
Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.
Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi.
Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.
Penganut Kristen ini, terkenal sangat taat beragama. Karenanya, dia juga salah satu perwira di jajaran TNI AD yang tidak menyukai PKI sekaligus yang menolak pembentukan Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan tani sesuai rencana PKI. Dan karena itulah dirinya dimusuhi dan dibunuh oleh PKI.
Dengan bertameng alasan dipanggil oleh Panglima Tertinggi Presiden Soekarno, tujuh perwira tinggi TNI AD, pada malam 30 September atau pagi dinihari tanggal 1 Oktober 1965 hendak diculik oleh sekelompok berpakaian Pengawal Presiden yang kemudian diketahui adalah pasukan PKI. Enam perwira tinggi itu berhasil diculik, namun Jenderal A.H. Nasution berhasil lolos tapi puteri dan ajudannya menjadi korban peristiwa itu.
Mayjen Anumerta D.I. Panjaitan yang malam dinihari itu merasa heran akan pemanggilan mendadak itu. Namun karena loyalitasnya pada pimpinan tertinggi militer, Presiden Soekarno, ia pun berangkat namun terlebih dahulu berpakaian resmi. Namun firasatnya yang tajam sepertinya merasakan bahaya yang sedang terjadi. Sebelum memasuki mobilnya, dengan berdiri di samping mobil ia lebih dulu memohon doa kepada Tuhan. Namun belum selesai menutup doanya, pasukan PKI sudah memberondongnya dengan peluru.
Ia bersama enam perwira lainnya, lima diantaranya perwira tinggi yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen.TNI Anumerta S Parman; Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S; dan satu perwira pertama, ajudan Jenderal Nasution yakni Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean pada malam itu gugur sebagai bunga bangsa demi mempertahankan ideologi Pancasila.
Pencarian yang dilakukan di bawah pimpinan Soeharto (Mantan Presiden RI yang waktu itu menjabat sebagai Pangkostrad), ditemukanlah jenazah Panjaitan di Lubang Buaya, terkubur massal di dalam satu sumur tua yang tidak dipakai lagi bersama enam perwira lainnya. Ia gugur sebagai Pahlawan Revolusi, kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya yang sebelumnya masih Brigadir Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Mayor Jenderal.
Kini di Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, berdiri Tugu Kesaktian Pancasila sebagai tugu peringatan atas peristiwa itu. Dan pada era pemerintahan Soeharto ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional.
3)M.T. Haryono, Letjen. Anumerta

Letnan Jenderal Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono (Surabaya, Jawa Timur 24 Januari 1924 - Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965) adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh pada persitiwa G30S PKI. Ia dimakamkan di TMP Kalibata - Jakarta.
Perwira kelahiran Surabaya ini pernah menjadi Sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, Atase Militer RI untuk Negeri Belanda dan terakhir sebagai Deputy III Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Pria yang sebelum masuk tentara pernah duduk di Ika Dai Gakko (sekolah kedokteran) ini seorang perwira yang fasih berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemampuannya itu membuat dirinya menjadi perwira penyambung lidah yang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan.
Letjen Anumerta M.T. Haryono kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tidak sampai tamat.
Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.
Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.
Tenaga M.T. Haryono memang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan antara pemerintah RI dengan pemerintah Belanda maupun Inggris. Hal tersebut disebabkan karena kemampuannya berbicara tiga bahasa internasional yakni bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman.
Terakhir ketika ia menjabat Deputy III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia. Partai yang merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat itu semakin hari semakin berani bahkan semakin merajalela.
Ide-ide yang tidak populer dan mengandung resiko tinggi pun sering dilontarkan oleh partai komunis itu. Seperti ide untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani atau yang disebut dengan Angkatan Kelima. Ide tersebut tidak disetujui oleh sebagian besar perwira AD termasuk oleh M.T. Haryono sendiri dengan pertimbangan adanya maksud tersembunyi di balik itu yakni mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis. Di samping itu, pembentukan Angkatan Kelima tersebut sangatlah memiliki resiko yang sangat tinggi. Namun karena penolakan itu pula, dirinya dan para perwira lain dimusuhi dan menjadi target pembunuhan PKI dalam pemberontakan Gerakan 30 September 1965.
Pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono bersama enam perwira lainnya yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen.TNI Anumerta S Parman; Mayjen. TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S; dan Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean berhasil diculik kemudian dibunuh secara membabi buta dan jenazahnya dimasukkan ke sumur tua di daerah Lubang Buaya tanpa prikemanusiaan.
M.T. Haryono yang tewas karena mempertahankan Pancasila itu gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal.
Untuk menghormati jasa para Pahlawan Revolusi sekaligus untuk mengingatkan bangsa ini akan peristiwa penghianatan PKI tersebut, dengan demikian diharapkan peristiwa yang sama tidak akan terulang kembali, maka oleh pemerintahan Soeharto ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional. Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, dibangunlah Tugu Kesaktian Pancasila sebagai tugu peringatan yang berlatar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut.
4)Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta

Kapten (Anumerta) Pierre Andreas Tendean (Jakarta, 21 Februari 1939–Jakarta, 1 Oktober 1965) salah seorang korban pada peristiwa Gerakan 30 September dan merupakan pahlawan nasional Indonesia.
Beliau adalah ajudan dari Jenderal Abdul Harris Nasution (Panglima ABRI) pada era Soekarno. Abdul Harris Nasution lolos dari peristiwa penculikan tetapi anaknya, Ade Irma Suryani Nasution tewas tertembus peluru. Pierre Tendean sendiri ditangkap oleh segerombolan penculik dan dibunuh di Lubang Buaya. Beliau diculik karena dikira adalah Jenderal A.H.Nasution.
Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Saat ini sedang direncanakan tentang pembuatan film mengenai Pierre Tendean dengan judul Pierre.
Pierre Tendean dilahirkan di Jakarta pada tanggal 21 pebruari 1939, putera dari DR. A.L Tendean yang berasal dari Minahasa, sedang ibunya seorang berdarah Perancis bernama Cornel ME. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya semua wanita, sehingga sebagai satu-satunya anak lelaki dialah tumpuan harapan orang tuanya.
Sesudah Pierre tamat dari SD di Magelang, meneruskan ke SMP bagian B dan kemudian ke SMA bagian B di Semarang. Setelah tamat dari SMA orang tuanya menganjurkan agar Pierre masuk Fakultas Kedokteran. Akan tetapi Pierre telah mempunyai pilihan sendiri, ingin masuh Akademi Militer Nasional, dan bercita-cita menjadi seorang perwira ABRI.
Pierre memasuki ATEKAD Angkatan ke VI di Bandung tahun 1958 dan dilantik sebagai Letda Czi tahun 1962. Setelah mengalami tugas, antara lain sebagai Danton Yon Zipur 2/Dam II dan mengikuti Pendidikan Intelijen tahun 1963 serta pernah menyusup ke Malaysia masa Dwikora sewaktu bertugas di DIPIAD, maka pada tahun 1965 diangkat sebagai Ajudan Menko Hankam/Kasab Jenderal TNI A.H. Nasution dengan pangkat Lettu.
Dalam jabatan sebagai Ajudan Jenderal TNI A.H. Nasution inilah Pierre Tendean gugur sebagai perisai terhadap usaha G 30 S/PKI untuk menculik/membunuh Jenderal TNI A.H. Nasution.
Di saat gerombolan G 30 S/PKI masih dan berusaha menculik Pak Nas pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, Pierre yang saat itu sedang tidur di paviliun rumah pak Nas, segera bangun, karena mendengar kegaduhan di rumah pak Nas. Ketika ia keluar, ia ditangkap oleh gerombolan penculik yaitu oleh Pratu Idris dan Jahurup. Ketika Pierre menjelaskan bahwa dialah Ajudan Pak Nas, maka pihak gerombolan salah dengar bahwa dialah pak Nas. Kemudian dia diikat kedua tangannya dan dibawa dengan truk ke Lubang Buaya.
Di lubang Buaya Pierre besama dengan Brigjen TNI Sutoyo dimasukan ke dalam rumah yang terletak dekat sumur tua. Setelah disiksa secara kejam oleh anggota-anggota G 30 S/PKI berdasarkan giliran paling akhir dibunuh dan dimasukan ke dalam Lubang Buaya bersama Pimpinan TNI AD lainnya.
5)Siswono Parman, Letjen. Anumerta

Siswondo Parman (Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918 ; Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965) atau lebih dikenal dengan nama S. Parman adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia dan tokoh militer Indonesia. Ia meninggal dibunuh pada persitiwa G30S PKI dan mendapatkan gelar jenderal anumerta. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Kata orang bijak, fitnah lebih kejam daripada membunuh. Dan apa yang dilakukan oleh PKI pada tujuh perwira pada malam 30 September 1965 jauh lebih kejam lagi. Setelah memfitnah dengan menyebutkan bahwa para Jenderal itu telah bekerjasama dengan satu negara luar untuk menjatuhkan Presiden Soekarno, PKI juga menculik dan membunuh perwira-perwira tersebut secara sadis dan biadab. Letjen. Anumerta S. Parman yang waktu itu menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat termasuk salah satu dari ketujuh perwira tersebut.
Pria kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah ini merupakan perwira intelijen, sehingga banyak tahu tentang kegiatan rahasia PKI karena itulah dirinya termasuk salah satu di antara para perwira yang menolak rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Penolakan yang membuatnya dimusuhi dan menjadi korban pembunuhan PKI.
Perwira yang gugur sebagai Pahlawan Revolusi ini lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Pendidikan umum yang pernah diikutinya adalah sekolah tingkat dasar, sekolah menengah, dan Sekolah Tinggi Kedokteran. Namun sebelum menyelesaikan dokternya, tentara Jepang telah menduduki Republik sehingga gelar dokter pun tidak sampai berhasil diraihnya.
Setelah tidak bisa meneruskan sekolah kedokteran, ia sempat bekerja pada Jawatan Kenpeitai. Di sana ia dicurigai Jepang sehingga ditangkap, namun tidak lama kemudian dibebaskan kembali. Sesudah itu, ia malah dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan pada Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya ke tanah air ia kembali lagi bekerja pada Jawatan Kempeitai.
Awal kariernya di militer dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yaitu Tentara RI yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan. Pada akhir bulanDesember, tahun 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta.
Selama Agresi Militer II Belanda, ia turut berjuang dengan melakukan perang gerilya. Pada bulan Desember tahun 1949 ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Salah satu keberhasilannya saat itu adalah membongkar rahasia gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang akan melakukan operasinya di Jakarta di bawah pimpinan Westerling. Selanjutnya, pada Maret tahun 1950, ia diangkat menjadi kepala Staf G. Dan setahun kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan pada Military Police School.
Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia ditugaskan di Kementerian Pertahanan untuk beberapa lama kemudian diangkat menjadi Atase Militer RI di London pada tahun 1959. Lima tahun berikutnya yakni pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal.
Ketika menjabat Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ini, pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia. Partai Komunis ini merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat pun sudah terpengaruh. Namun sebagai perwira intelijen, S. Parman sebelumnya sudah banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Maka ketika PKI mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau yang disebut dengan Angkatan Kelima. Ia bersama sebagian besar Perwira Angkatan Darat lainnya menolak usul yang mengandung maksud tersembunyi itu. Dengan dasar itulah kemudian dirinya dimusuhi oleh PKI.
Maka pada pemberontakan yang dilancarkan oleh PKI tanggal 30 September 1965, dirinya menjadi salah satu target yang akan diculik dan dibunuh. Dan pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen. TNI Anumerta S. Parman bersama enam perwira lainnya yakni Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S; dan Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean berhasil diculik kemudian dibunuh secara membabi buta dan jenazahnya dimasukkan ke sumur tua di daerah Lubang Buaya tanpa prikemanusiaan.
S. Parman gugur sebagai Pahlawan Revolusi untuk mempertahankan Pancasila. Bersama enam perwira lainnya ia dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.
Untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut, oleh pemerintah Orde Baru ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional. Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut. Tugu tersebut dinamai Tugu Kesaktian Pancasila.
6)Suprapto, Letjen. Anumerta
Letnan Jenderal R. Suprapto (Purwokerto, 20 Juni 1920–Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Beliau merupakan salah satu korban dalam Gerakan 30 September dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Letnan Jenderal Anumerta Suprapto terkenal sebagai seorang tentara yang taat menjalankan ibadah agama dan tidak pernah setuju dengan ajaran komunis.Sehingga ketika menjabat Deputy II Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), dialah salah satu perwira yang menolak usulan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani.
Karena penolakan itu, pria kelahiran Purwokerto yang masuk tentara jamannya Tentara Keamanan Rakyat dan yang pernah menjadi ajudan Panglima Besar Jenderal Sudirman, ini selalu dimusuhi dan selalu mendapat rongrongan dari pihak PKI. Bahkan akhirnya dalam pemberontakan Gerakan Tiga Puluh September tahun 1965, ia salah satu perwira tinggi yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh PKI.
Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, ini boleh dikata hampir seusia dengan Panglima Besar Sudirman. Usianya hanya terpaut empat tahun lebih muda dari sang Panglima Besar. Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941.
Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika itulah ia memasuki pendidikan militer pada Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai tamat karena pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia. Oleh Jepang, ia ditawan dan dipenjarakan, tapi kemudian ia berhasil melarikan diri.
Selepas pelariannya dari penjara, ia mengisi waktunya dengan mengikuti kursus Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan, seinendan, dan syuisyintai. Dan setelah itu, ia bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat.
Di awal kemerdekaan, ia merupakan salah seorang yang turut serta berjuang dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap. Selepas itu, ia kemudian masuk menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto. Itulah awal dirinya secara resmi masuk sebagai tentara, sebab sebelumnya walaupun ia ikut dalam perjuangan melawan tentara Jepang seperti di Cilacap, namun perjuangan itu hanyalah sebagai perjuangan rakyat yangdilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya.
Selama di Tentara Keamanan Rakyat, ia mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Ia juga salah satu yang pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut.
Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia sering berpindah tugas. Pertama-tama ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang. Dari Semarang ia kemudian ditarik ke Jakarta menjadi Staf Angkatan Darat, kemudian ke Kementerian Pertahanan. Dan setelah pemberontakan PRRI/Permesta padam, ia diangkat menjadi Deputy Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera yang bermarkas di Medan. Selama di Medan tugasnya sangat berat sebab harus menjaga agar pemberontakan seperti sebelumnya tidak terulang lagi.
Selanjutnya dari Medan ia dipindahkan lagi ke Jakarta untuk menjabat Deputy II Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal. Kala memangku jabatan ini, pengaruh PKI sedang marak di Indonesia. Partai Komunis yang merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sudah berpengaruh pada sebagian rakyat paling bawah, kemudian mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau yang disebut dengan Angkatan Kelima. Usul yang mengandung maksud tersembunyi itu oleh sebagian besar Perwira Angkatan Darat ditolak termasuk oleh Suprapto sendiri.
Penolakan itulah kemudian yang membuat PKI merasa sakit hati dan menaruh dendam kepada sejumlah perwira AD tersebut. Dengan berbagai cara, PKI selalu merongrong Deputy II Men/Pangad serta pribadi Suprapto sendiri dengan berbagai fitnah yang keji.
Terakhir, dengan membuat fitnah adanya sejumlah Jenderal TNI AD bekerjasama dengan satu negara luar hendak menggulingkan Presiden Soekarno, PKI pun melakukan aksinya pada malam 30 September 1965 atau subuh tanggal 1 Oktober 1965. Rencananya PKI hendak menculik dan membunuh tujuh Perwira Tinggi AD. Rencana jahat itu berjalan hampir sempurna. Hanya satu di antara perwira dimaksud yang berhasil lolos dari penculikan yakni Jenderal A.H. Nasution, walaupun untuk itu, Pierre Tendean ajudan Nasution sendiri harus menjadi tumbalnya.
Keenam Perwira Tinggi AD itu yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen. TNI Anumerta S.Parman; Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S; dan satu Perwira Pertama yaitu Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean.
Ketujuh perwira yang berhasil diculik dan dibunuh itu besok harinya oleh tim yang dipimpin Soeharto (mantan Presiden RI) ditemukan terkubur di sumur tua di daerah Lubang Buaya. Jenazah ketujuh korban ditemukan penuh lumpur dan darah, dari bekas luka di tubuh para korban disimpulkan bahwa sebagian korban langsung mati tertembak sementara sebagian lagi lebih dulu disiksa kemudian baru ditembak.
Suprapto yang karena kesetiaanya pada Pancasila gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Bersama enam perwira lainnya ia dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.
Dan untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut, oleh pemerintah Orde Baru ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional. Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut. Tugu tersebut dinamai Tugu Kesaktian Pancasila.
Pemberontakan yang didalangi oleh komunis memang bukanlah pertama kali ini terjadi, pada tahun 1948 sudah pernah terjadi di Madiun, Jawa Timur. Namun kekejaman komunis dalam peristiwa G 30/S PKI ini sungguh meninggalkan trauma yang sangat dalam dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi persada ini. Trauma akibat kejadian itu tidak hanya dialami oleh pihak yang menjadi korban langsung dari peristiwa itu. Tapi semua warga bangsa hingga ke generasi terakhir ini masih merasakan pengaruh peristiwa itu.
Bahkan walaupun tidak secara nyata, pergantian rejim kepemimpinan di negara ini pun seakan terseret oleh peristiwa sadis itu. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa di kedua belah pihak banyak yang menjadi korban baik pra maupun pasca peristiwa itu.
Namun jika itu menjadi alasan untuk melakukan balas dendam niscaya kita tidak akan pernah merasakan kenyamanan sebagai sesama warga bangsa. Hanya satu hikmat yang boleh diambil dari peristiwa itu yakni bahwa kita tidak akan pernah lagi mau tertipu akan ajaran komunis yang telah merusak tatanan kehidupan kita sebagai saudara sebangsa yang beragama
7)Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta
Sutoyo Siswomiharjo (Kebumen, 23 Agustus 1922–Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965) adalah seorang Mayor Jenderal TNI yang menjadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September di Indonesia. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Sutoyo Siswomiharjo dilahirkan pada tanggal 28 Agustus 1922 di Kebumen. Mulai pendidikannya dari HIS, di AMS tahun 1942 di Semarang, lalu melanjutkan pendidikannya di Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta.
Pemuda Sutoyo sebelum mulai karirnya selaku seorang prajurit, bertugas di Kabupaten Purworejo, sebagai Pegawai Menengah/III.
Tugas sebagai seorang Militer dimulai saat perjuangan kemerdekaan tahun 1945. Pada tahun 1946 menjabat sebagai Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara)Purworejo dengan pangkat Kapten dan di tahun 1948 menjadi Kepala Staf CPMD Yogyakarta hingga tahun 1949. Pada tahun 1950 Mayor Sutoyo menjabat sebagai Komandan Batalyon I CPM dan tahun 1951 Danyon V CPM. Sedang pada tahun 1954 menjabat sebagai Kepala Staf MBPM hingga akhir tahun 1954. Mulai tahun 1955 sebagai Pamen diperbantukan SUAD I dengan pangkat Letkol hingga tahun 1956. Sejak tahun ini diangkat menjadi Asisten ATMIL di London. Setelah kembali di tanah air dan selesai mengikuti pendidikan Kursus “C” Seskoad tahun 1960. Pada tahun 1961 naik pangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD. Pada tahun 1964 dinaikan pangkatnya menjadi Brigjen.
Menjelang pemberontakan G 30 S/PKI yang ternyata menculik dan membunuh beliau, Pak Toyo mengalami beberapa hal yang dirasakan kurang enak seperti udara yang panas walaupun ruang sudah ber AC, dan bahkan memerintahkan untuk membuat rencana peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1965 secara cermat kepada Ajudannya. Terbukti bahwa semua firasat yang dialami Brigjen TNI Sutoyo ini ada artinya yaitu tanggal 1 Oktober jam 04.00 Brigjen TNI Sutoyo diculik dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI.
Adapun gerombolan yang bertugas menculik Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dipimpin oleh Serma Surono dari Men Cakrabirawa dengan kekuatan 1 (satu) peleton. Dengan todongan bayonet, mereka menanyakan kepada pembantu rumah untuk menyerahkan kunci pintu yang menuju kamar tengah. Setelah pintu dibuka oleh Brigjen TNI Sutoyo, maka pratu Suyadi dan Praka Sumardi masuk ke dalam rumah, mereka mengatakan bahwa Brigjen TNI Sutoyo dipanggil oleh Presiden. Kedua orang itu membawa Brigjen TNI Sutoyo ke luar rumah sampai pintu pekarangan diserahkan pada Serda Sudibyo. Dengan diapit oleh Serda Sudibyo dan Pratu Sumardi, Brigjen TNI Sutoyo berjalan keluar pekarangan meninggalkan tempat untuk selanjutnya dibawa menuju Lubang Buaya, gugur dianiaya di luar batas-batas kemanusiaan oleh gerombolan G 30 S/PKI.

Kamis, 23 Oktober 2008

KREATIVITAS ANAK

PENGARUH BELAJAR YANG MENYENANGKAN TERHADAP KREATIVITAS ANAK*

Banyak hal yang bisa meningkatkan perkembangan anak ketika ia mengalami proses belajar yang menyenangkan, salah satunya adalah perkembangan kreativitas. Menurut Seto Mulyadi, seorang pakar anak, kreativitas alamiah pada diri anak akan tampak dan perilaku mereka yang sering bertanya, senang menjajaki lingkungan, tertarik untuk mencoba segala sesuatu, dan memiliki daya khayal yang tinggi.
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan kreativitas anak. Kreativitas memang membutuhkan daya imajinasi, dan orang tua bisa berperan dalam menciptakan kondisi yang bebas bagi anak agar anak mampu membangun fantasi atau khayalan-khayalan, berimajinasi, atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Orang tua juga bisa memberi rangsangan pada anak dengan pengetahuan awal atau gagasan untuk dikembangkan menjadi gagasan-gagasan yang baru.
Semakin banyak pengetahuan yang dapat dipero!eh anak, semakin balk dasar untuk mencapai hasil yang kreatif. Kreativitas tidak berhenti pada imajinasi semata, melainkan dalam suatu bentuk yang bertujuan. Orang tua berperan dalam memberikan wadah perwujudan kreativitas anak-anak, seperti karya seni, musik dan nyanyian, atau kesempatan anak untuk bercerita dan mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Dari pendapat berbagai pakar, dapat disebutkan beberapa parameter kreativitas yang dimiliki seorang anak, yang dihasilkan dan kesenangannya dalam belajar. Sebagai berikut:
· Kemampuan untuk Menciptakan Sesuatu yang Baru dan Unik
Menurut Elizabeth Hurlock, kreativitas adalah adanya sesuatu yang baru baik dalam bentuk gagasan atau suatu hasil karya. Dalam kreativitas yang diciptakan adalah sesuatu yang baru dan berbeda dan yang telah ada dan sifatnya unik. Keunikan dekat dengan keaslian (orisinalitas), yaitu kemampuan untuk membuat sesuatu yang orisinal (asli), murni dari ide anak, serta didukung oleh pengetahuan dan informasi yang telah diperoleh anak sebelumnya.
Sebagai contoh, setelah mendengar cerita dan guru tentang indahnya kehidupan di dasar laut, kemudian seorang anak membuat mainan kapal selam dan kertas yang dilengkapi gambar dekorasi yang menarik. Kapal selam tersebut ditempelkan pada alas kertas karton tebal. Setelah itu ia lengkapi dengan cerita bahwa kapal mi akan membawanya bersama teman-teman untuk menikmati keindahan kehidupan di laut. Hal ini merupakan penyaluran daya imajinasi dan ungkapan keinginan anak untuk melihat kehidupan di dalam laut yang diungkapkan dalam sebuah karya yang kreatif.

· Kemampuan untuk Mentransformasikan Gagasan Lama ke dalam Bentuk-bentuk Baru
Kreativitas juga berarti mentransformasikan gagasan lama ke dalam bentuk barn, gagasan yang hama merupakari dasar dan yang baru. Jika orang ingin kreatif mereka memerlukan pengetahuan yang diterima sebelum mereka dapat menggunakannya dengan cara yang baru dan orisinal.
Kreativitas juga terlihat pada kemampuan untuk membuat sesuatu yang umum menjadi khusus dan sesuatu yang khusus menjadi umum, dan kemampuan mentransformasi ini juga tercermin pada kemampuan melihat sesuatu dengan cara yang baru.
Pengembangan ide bisa bermula dan sesuatu yang sama. Hal ini dapat kita lihat ketika seorang anak dengan anak lainnya mengerjakan tugas yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Artinya anak bisa mengembangkan idenya dengan cara lain yang lebih kreatif, tidak hanya meniru apa yang disampaikan orang tua. Misalnya membuat miniatur planet. Walaupun sudah ada keterangan yang diperoleh anak baik dan buku, guru, maupun orang tua, anak bisa saja membuat miniatur planet sesuai dengan gagasan yang ada di benaknya.

· Kemampuan untuk Membangun lmajinasi dan Fantasi yang Terarah
Imajinasi bisa diartikan sebagai kemampuan rnembayangkan sesuatu yang tidak ada, kemudian mengembangkan ide dan menghubungkannya dengan sesuatu yang pernah diketahui atau dilihatnya. Mempunyai daya imajinasi, dapat juga menjadi salah satu ukuran kreativitas seorang anak. Daya imajinasi dapat dikembangkan dengan cara memberikan kebebasan pada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif dengan bimbingan dan arahan orang tua.
Menurut Hurlock, kreativitas merupakan imajinasi atau fantasi yang terarah. Mereka memerlukan pengetahuan yang diterima sebelum mereka dapat menggunakannya dengan cara yang baru dan orisinal. Hasil yang dicapai terarah pada acuan dan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya baik dan pengetahuan yang diberikan oleh orang tua maupun dan bacaan atau tayangan yang pernah mereka lihat. Ada maksud dan tujuan yang ditentukan, jadi bukan fantasi semata, walaupun berbentuk sebuah hasil atau gagasan yang tidak lengkap.
Imajinasi yang terarah ini bisa ditumbuhkan lewat permainan imajinatif. Sering melibatkan anak dalam permainan imajinatif akan membuat dan mendorong anak untuk berpikir dan berkreasi. Dengan demikian anak akan terbiasa untuk selalu berusaha menghasilkan ide-ide yang kreatif.
Misalnya seorang anak yang mempunyai kebiasaan berkhayal sering menuangkan khayalannya dalam bentuk cerita, baik dalam gambar maupun tulisan. Jika kebiasaan ini didukung oleh orang tua, misalnya dengan memberikan buku cerita, menyampaikan cerita kepada anak, mengajak dialog kepada anak tentang suatu topik, maka akan sangat membantu anak untuk mengeluarkan ide atau gagasannya. Tidak jarang akan diperoleh karya yang indah dan ide-ide kreatif anak.

· Kemampuan untuk Melihat Berbagai Kemungkinan Jawaban Terhadap Suatu Masalah
Kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah disebut juga kemampuan berpikir divergen. Cara berpikir yang kreatif menjajaki berbagai kemungkinan jawaban dengan kemampuan berpikir yang beragam, bukan hanya mencari satu jawaban yang benar. Hal ini dimungkinkan jika tercipta kebebasan psikologis pada anak. Anak diberi kesempatan untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran-pikiran akan perasaan-perasaannya, dan memberikan pada anak kebebasan dalam berpikir atau merasa sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya.
Kemampuan berpikir divergen biasanya didorong oleh pola komunikasi yang diterapkan, baik oleh orang tua maupun guru, kepada anak. Dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk memberikan tanggapan terhadap suatu persoalan dan berbagai sudut pandang akan membentuk cara berpikir anak yang kreatif, tidak terbatas pada suatu hal, dan mendorong anak untuk mengembangkan ide-idenya.
Misalnya suatu saat kita berdialog dengan anak tentang apa itu banjir. Kreativitas yang berkembang pada anak akan mendorong anak mengaitkan tema banjir dengan banyak hal, misalnya buang sampah sembarangan, pohon-pohon yang ditebang, orang-orang mengungsi karena rumahnya rusak, memberikan sumbangan pakaian, makanan dan sebagamnya. Ide-ide ini bisa muncul dengan sendirinya ketika menanggapi sebuah tema.

· Adanya Rasa Ingin Tahu yang Luas dan Mendalam
Kreativitas juga ditandai dengan adanya rasa ingin tahu yang luas dan mendalam. Anak tidak puas dengan hanya menerima informasi yang disampaikan orang tua saja tetapi dia akan mencoba mengetahui lebih luas dan mendalam. Hal ini dapat ditandai dengan seringnya anak mengajukan pertanyaan, baik yang terkait langsung dengan materi atau terkait dengan hal lain saat orang tua bercerita atau menerangkan sesuatu.
Misalnya ketika kita ajak anak melihat pameran ilmu pengetahuan dan teknologi. Anak yang kreatif biasanya ingin tahu lebih jauh tentang hal-hal baru dan menarik yang ditemuinya. Kita sebagai orang tua akan diberondong dengan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang baru dilihatnya.

· Adanya Minat yang Luas dan Keinginan Bereksplorasi
Minat yang luas ditunjukkan oleh anak-anak kreatif dengan adanya keinginan untuk bereksplorasi atau mempelajari dan menjelajahi hal-hal baru. Tingkat energi, spontanitas dan petualangan sering tampak pada anak yang kreatif. Mereka mempunyai keinginan yang besar untuk mencoba aktivitas yang baru dan mengasyikkan. Dalam skala tertentu, mereka berani melakukan sesuatu yang berbeda dan yang dilakukan oleh temannya dan melakukan sesuatu yang memang disukainya.
Anak-anak perlu belajar melakukan eksplorasi. Mereka perlu diberikan kebebasan seluas-luasnya dengan dukungan sarana dan prasarana yang ada untuk melakukan eksplorasi sehingga dapat mendorong munculnya ide-ide kreatif.
Keinginan untuk bereksplorasi atau menjelajah biasanya muncul dalam diri anak-anak yang kreatif ketika dia menemukan suatu hal yang baru dan menarik baginya. Misalnya anak menggunakan panci masak milik ibunya sebagai helm (pelindung kepala) dan alat masak lainnya sebagai senjata ketika bermain perang-perangan dengan temannya. Aksesoris tersebut dipakai untuk melengkapi pakaian perang yang diciptakannya sendiri, misalnya dan plastik. Anak bereksplorasi dengan benda yang dimiliki atau yang berada di sekitarnya untuk menciptakan kostum dan senjata dalam permainannya.

· Adanya Perhatian pada Proses, Bukan Sekadar Hasil Akhir
Kreativitas dianggap sebagai suatu proses, yaitu proses dalam menghasilkan sesuatu yang baru. Penekanannya adalah pada tindakan menghasilkan daripada hasil akhir. Jadi yang lebih difokuskan adalah pada proses dan bukan pada hasil akhirnya. Melalui pendekatan pada proses, yang lebih dilihat adalah bagaimana munculnya ide-ide orisinal untuk melakukan sesuatu, dan tidak terpaku pada produk akhir yang menjadi bukti kreativitas seorang anak.
Misalnya seorang guru mengajarkan tahapan membuat pesawat mainan dan kardus dan bambu di kelas. Anak yang mempunyal ide kreatif tidak akan mengikuti tahapan yang persis sama dengan yang disampaikan gurunya. Ada beberapa hal yang ia modifikasi, meski kemudian hasil akhirnya kurang sempurna misalnya sayap pesawatnya patah. Pesawat mainan si anak sayapnya patah karena ia melakukan modifikasi yang justru membuat lebih rumit dan tidak kokoh. Dalam kasus ini seharusnya, yang lebih dilihat adalah proses anak dalam membuat pesawat dan keberaniannya memodifikasi bentuk. Jadi bukan semata-mata melihat hasil akhir yang kurang sempurna karena sayap pesawat patah.

· Adanya Kesenangan dan Kepuasan Pribadi dalam Melakukan Pekerjaan
Kreativitas akan memberikan kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar pada anak. Anak akan mendapatkan penghargaan atau pujian yang mempunyai pengaruh nyata terhadap perkembangan kepribadiannya.
Anak akan merasa puas bila mampu menciptakan rumah-rumahan dengan bentuk yang didesainnya sendiri, misalnya ketika ia bisa membuat rumah dan mainan puzzle. Imajinasinya tentang bentuk sebuah rumah tersalurkan melalui rumah ciptaannya. Pujian yang datang dan orang lain terhadap karyanya akan menambah kegembiraan dan kepuasan pada diri anak. Namun sebaliknya, cemoohan akan membuatnya kecewa dan bersedih.

· Adanya Pengetahuan Awal Sebagai Modal
Kreativitas muncul pada diri anak karena ada rangsangan dan sesuatu yang telah diperolehnya. Misalnya di sekolah anak mendapat penjelasan dan guru tentang bulan sebagai satelit bumi, di mana bulan selalu mengikuti kemana pun bumi pergi. Pengetahuan ini mengilhami permainan yang dilakukan anak di rumah bersama temannya, yaitu bermain satelit-satelitan. Yang menjadi bulan akan selalu mengikuti kemana saja gerakan anak yang berperan sebagai bumi.

· Kepekaan Akan Keindahan (Sense of Beauty)
Anak mampu mengapresiasi rasa keindahan yang ditimbulkan oleh suatu benda atau karya. Rasa keindahan ini dikembangkannya dengan menciptakan gagasan-gagasan baru terhadap benda atau karya yang dilihatnya. Anak mempunyai minat yang cukup besar terhadap seni, sastra, musik, teater, dan lain sebagamnya.
Salah satu bentuk kreativitas anak tertuang dalam seni dan keindahan. Kepekaan terhadap keindahan dituangkan misalnya dalam:
- menciptakan gerakan yang indah ketika mendengar musik;
- menggambarkan benda-benda, situasi atau keadaan yang didalamnya dalam kertas;
- kesenangan atau minat anak terhadap karya-karya seni.

· Kemampuan Berpikir Asosiatif dan Bermain denan Gagasan
Berpikir asosiatif berarti mencoba mengaitkan hal-hal yang berlainan dalam suatu pemahaman tertentu. Dalam mengaitkan ini, permainan gagasan sering terjadi, karena tidak adanya aturan baku dalam pengaitan fenomena ini. Disinilah kreativitas tumbuh.
Akibatnya sering ada ungkapan anak yang mengaitkan apa yang tengah diceritakan dengan apa yang ada dalam pikirannya sebagai suatu ungkapan yang tidak pernah terduga sebelumnya Misalnya ketika kita menerangkan sebuah tema buku tentang sumber air panas kepada anak.
Berdasarkan pengalaman anak yang pernah mandi air panas alam di pemandian sumber air panas, ariak akan memberikan berbagai pertanyaan dan juga pernyataan. Dia akan bertanya mengapa belerang bisa membuat air menjadi panas, atau mengapa di dekat rumah tidak ada air panas. Atau bisa juga ia membuat pernyataan bahwa air panas dan sumber alam itu mengandung belerang.

· Kepekaan Melihat Hal Unik dan Lingkungan Sekitar dan Aktivitas Sehari-hari
Alam sekitar dan kehidupan sehari-hari merupakan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya. Anak yang kreatif sering memperoleh ide dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Seorang anak bisa saja membuat cerita tentang kehidupan semut setelah melihat dan mengamati barisan semut yang ada di rumah. Atau seorang anak akan menggambar pelangi setelah melihat munculnya pelangi di senja hari seusai hujan turun.

· Kemampuan Mengungkapkan Gagasan
Kreativitas anak dapat dilihat dan kemampuannya untuk mengungkapkan gagasan atau bercerita, baik di rumah maupun di sekolah. Apabila pendengar menunjukkan reaksi senang terhadap cerita mereka, anak akan terdorong untuk bercerita lebih banyak, yang pada akhirnya akan berkembang menjadi sebuah kesenangan.
Pada mulanya ia bercerita dengan cara reproduktif. Anak menceritakan hal-hal yang telah mereka dengar dan radio atau televisi atau yang diceritakan orang tua padanya. Kelak cerita mereka akan menjadi kreatif. Mereka akan membuat cerita berdasarkan bahan dan berbagai sumber, dan menambah hal- hal orisinal pada cerita itu.
Anak perlu dibiasakan untuk mengungkapkan ide-idenya. Hal ini harus didorong oleh lingkungan sekitarnya, terutama oleh orang tua, misalnya dengan pemberian informasi atau materi yang mendorong anak untuk selalu dapat mengembangkan pemikirannya. Di samping itu orang tua harus memberikan penghargaan kepada anak ketika ia sedang mengungkapkan gagasannya.

* (The Reference in The Profil of andydoanx2525)