Krisis finansial di Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini membuat panik masyarakat dunia. Diakui atau tidak, AS telah menjadi poros ekonomi, budaya, dan militer, Apalagi mata uang dollar menjadi alat tukar paling banyak dipakai di seluruh dunia.
Di dunia ini ada ketimpangan global. Ada negara-negara yang lebih banyak menerima duit dan lebih-sedikit mengeluarkan duit. Mereka ini disebut negara surplus. Mereka selalu mencari tempat untuk menaruh uangnya di luar negeri. Ternyata, 50 persen uang-uang itu memilih AS sebagai tempat ”parkir”.
Kemudian pemerintah AS membuat kebijakan agar bisa ”menangkap” uang-uang itu dengan memberi kredit perumahan (semacam KPR) kepada orang yang tergolong tidak layak mendapat kredit yang dinamakan sub-prime Mortgage. Apalagi saat itu (1987) harga rumah naik terus dan suku bunganya rendah. Yang kasih kredit itu Washington Mutual (WaMu).
Agar bisa dapat laba besar, WaMu ”menjual” kredit ini kepada Fannie Mae dan Freddy Mac. Lalu mereka menjual lagi surat utang ini yang disebut Mortgage Based Securities (MBS).
Di antara pembeli MBS, ada Lehman Brothers. Mereka juga menjual lagi kredit ini dengan istilah Collateralized Debt Obligations (CDO). Dahsyatnya, Lehman membeli MBS seharga 13 miliar dollar, namun menjual CDO-nya 629 miliar dollar.
Karena yang jual Lehman Brothers. Mereka ini oke punya. Sudah punya pamor. Luar biasanya lagi, CDO ini jual lagi dengan nama CDO kuadrat. Setiap terbit surat utang selalu ada asuransinya. Jadi, pas dijual lagi ya diasuransikan lagi. Begitu seterusnya. Dari sinilah keruwetan itu bermula. Ditambah lagi dengan Credit-linked Note (CLN). CLN punya aturan: kalau CDO-nya Lehman tidak gagal bayar, bank ini juga tidak gagal bayar. Tapi, jika CDO-nya Lehman gagal bayar, bank itu ikut-ikutan gagal. Padahal, CLN ini tidak punya MBS maupun CDO. Belum lagi ada Credit Default Swaps (CDS). CDS aturannya: kalau ada yang gagal bayar (default), bank ini siap menanggungnya.
Sebenarnya semua bank tahu betul kalau sub-prime mortgage itu tinggi resikonya alias macet. Namun, karena kurun 1987-2006 harga rumah selalu naik yang membuat mereka itu berani kasih kredit. Toh, kalau ada yang macet, rumah itu dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Jadi, nggak akan rugi pikir mereka.
Ternyata, perkiraan mereka salah. Pada 2006 harga rumah mulai turun. Karena hampir semua orang punya rumah. Mau dijual ke siapa lagi nih? Dan kredit macetnya makin banyak. Akhirnya, WaMu jebol. Satu jebol yang lain juga jebol. Semua panik. Banyak orang di-PHK, rumah disita, harga saham jeblok, dollar kacau, dll.
Ketika WaMu bangkrut, pemerintah AS membantu. Juga saat Fannie Mae, Freddy Mac, dan AIG (pihak asuransi) juga ambruk, pemerintah masih mau bantu. Giliran Lehman tumbang, pemerintah AS tidak mau. Pemerintah bilang, “Kamu cuma punya MBS 13 miliar. Tapi, kamu jual seenaknya. Kami nggak mau tanggung.” Celakanya, yang beli produknya Lehman kebanyakan orang Asia dan Timur Tengah. Jadilah dunia terguncang.
Meski pemerintah AS mengucurkan bantuan (bailout) 700 miliar dollar, tidak otomatis beres. Sebab, KPR yang macet saja 350 miliar. MBS yang macetjuga 350 miliar dollar. CDO-nya belum dihitung tuh. Apalagi CDO Kuadrat dan turunannya lagi. Semua resah. Bisa jadi yang belum terdeteksi jauh Iebih besar.
Kredit macet bisa terjadi, baik di ekonomi syariah maupun konvensional. Tapi, kalau syariah hanya kredit awal saja yang macet. Tidak ada turunannya. Tidak akan seluas ini efeknya. Sebab, dalam ekonomi syariah ada prinsip ma’qud alaih artinya ada uang ada barang. Jadi, tidak ada jual beli kertas kredit seperti itu.
Kita tidak bisa serta merta mengubah ekonomi dunia dalam sekejap. Krisis ni setidaknya membuat masyarakat dunia mempelajari ekonomi Islam. Mereka sadar sistem mereka tidaklah sehat. Mereka ingin kembali membatasi kredit (tahun 2000 pemermntah AS menghapus UU kredit dan turunannya). Meski tidak sepenuhnya mirip, tapi batasan ini mendekati prinsip ma’qud alaih. Ini yang kita manfatkan untuk terus, menyosialisasikan konsep ekonomi Islam kepada mereka. Mereka juga mulai menggunakan mudharabah (bagi hasil). Mereka mencobanya saat mengucurkan bailout. Biasanya pakai sistem bunga. Kalau masih pakai bunga, krisis ini nggak bakalan kelar. Belum bangkit sudah disuruh bayar bunga. Diakui atau tidak, dunia telah belajar banyak dan ekonomi Islam.
Jadi, kita harus bangga dengan sistem Islam. Kita tidak perlu pusing dengan istilah Kapitalisme, Sosialisme atau lamnnya. Kita tengok ala kondisi Madinah di zaman Nabi. Siapapun dan apapun agamanya, kalau tinggal di Madinah ya harus ikut cara Islam. Itu yang harus kita yakini.{Al-Falah-Edisi 246}
1 komentar:
salut buat u doank deh. tapi kamu bukan super dan bukan star...
Posting Komentar